FENOMENA GAHRU


Allah SWT berfirman :” Alladzina yadzkuruunalloh qiyaaman wa qu’udan wa ‘alaa junuubihim wa yatafakkaruuna fii kholqissamaawati wal ardhi Robbana maa kholaqta hadza baathilaa subhaanaka fa qina ’adzabannar.”

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tiada yang kau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka pelihara kami dari api Neraka.”)  (Al Imron 191.)
Maha Benar Allah SWT Yang Maha Agung, mudah-mudahan kita tergolong orang-orang yang selalu mengingat Allah didalam situasi apapun. Ayat yang diatas memberikan isyarat bahwasanya setiap apa pun yang di ciptakan oleh Allah SWT, mengandung hikmah atau pelajaran bagi orang-orang yang mau memikirkannya (Al Imron 190.) sebagimana yang telah diisyaratkan Habibana Ali Al Habsyi di dalam kitab maulidnya Kholaqol kholqo li hikmah ( di ciptakan segalanya dengan hikmah.) Berbicara tentang ciptaan Allah, diantara ciptaan-Nya yang memiliki keistimewaan adalah pohon gahru, salah satu keistimewaannya adalah apabila kayu gahru itu telah kering maka tatkala kita bakar akan menghasilkan bau yang sangat harum, karena aroma harum yamg keluar dari gahru yang dibakar itulah yang menyebabkan kayu gahru banyak di cari orang sehingga harga kayu tersebut mencapai jutaan, tetapi bukan itu pokok permasalahannya melainkan ada sebagian orang yang mempertanyakan bagaimana hukum membakar gahru tersebut menurut kacamata agama, sementara banyak orang, apabila mereka melakukan satu kegiatan keagaman  atau katakanlah acara maulid maka tak jarang ditemui ditempat itu terdapat gahru yang di bakar.
Pertama, perlu kita ketahui didalam sejarah dikatakan bahwa tradisi bangsa arab sejak dahulu apabila melakukan pertemuan maka di bakarlah gahru/luban untuk mengharumkan ruangan serta menghormati tetamu, kalo kita simak pada hari ini banyak ditemukan produk-produk pengharum ruangan, bedanya kalo sekarang cukup kita letakan pengharum ruangan di AC maka tersebarlah aroma wangi keseluruh ruangan.
Kedua, di riwayatkan bahwasannya Rosululloh SAW senang terhadap wangi-wangian baik berupa minyak maupun gahru yang di bakar Imam Haddad di dalam kitab risalatul mu’awanah mengatakan” diriwayatkan bahwa Rosululloh Saw bercelak tiap malam hari. Demikian pula hendaknya memakai minyak wangi secukupnya guna menutupi bau badan yang tidak sedap, terlebih lagi pada waktu menghadiri sholat jum’at dan hari-hari raya serta setiap menghadiri pertemuan orang ramai. Rosululloh Saw. Menyukainya dan sering-sering menggunakannya sedemikian sehingga kadang-kadang tampak belahan rambut beliau berkilat karenanya. Tentunya hal ini semata-mata agar di contoh umatnya. Seandainya tidak demikian, niscaya beliau tidak perlu memakinya, sebab tubuh beliau selalu berbau sedap dari asalnya sedemikian sehingga diriwayatkan bahwa para sahabat menyimpan tetesan keringatnya untuk dijadikan pewangi tubuh mereka.” Dan diriwatkan pula didalam kitab shohih bukhori bab III yang akhir sanadnya dari ‘amru bin sulaim bahwa Rosululloh Saw mensunatkan memakai wangi-wangian pada hari jum’at.

Ketiga, hukum dari membakar gahru asalnya adalah mubah, kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Maksudnya adalah kembali kepada niat orang tersebut “Innamal a‘malu binniyat”

Dan apabila kita memanfatkan wangi-wangian tersebut untuk hal yang yang berguna, sebagimana Rosululloh Saw menggunakannya maka hal tersebut adalah Sunnah.
Mudah-mudahan dari penjelasan yang singkat ini membawa manfaat bagi kita semua. Amiin, Wallohu Ta’la A’lam.